15 November, 2011

TREN KULTUR MAUT

PERNAHKAN Anda mendengar istilah  "kultur maut?" culture of death, destroy popular culture, istilah-istilah yang lahir dari dunia yang nekat tanpa kendali moral, tren ini sudah ada sejak lama dan pernah di ulas dalam sebuah artikel Awake! pada tahun 2000, erat kaitannya dengan menipisnya respek orang-orang terhadap kehidupan sendiri serta kehidupan dan nyawa orang lain. Misalnya, pertimbangkan kenyataan yang di amati pada dekade lalu, 

Berapa Harga Nyawa?
▪ ”Kaum remaja anggota geng [di Mumbai, India] benar-benar nekat, mereka bersedia membunuh dengan tarif 5.000 rupee saja [115 dolar AS].”—Far Eastern Economic Review.
▪ ”Menolak Memberi Rokok, Orang Lewat Dibunuh”.—Tajuk berita di La Tercera, Santiago, Cile.
▪ ”Rata-rata, butuh 7.000 dolar AS untuk mengatur pembunuhan kontrak di Rusia [pada tahun 1995] . . . Pembunuhan kontrak telah meningkat tajam dalam iklim ledakan ekonomi di Rusia pasca-komunis.”—Reuters, berdasarkan sebuah laporan dari Moscow News.
▪ ”Seorang pialang real estat di Brooklyn ditangkap . . . dan dituntut atas tuduhan membayar uang muka dari sejumlah 1.500 dolar AS kepada seorang remaja untuk membunuh istrinya yang sedang hamil beserta ibu mertuanya.”—The New York Times.
▪ ’Harga untuk membunuh di Inggris sedang menurun. Tarif seorang pembunuh bayaran telah merosot dari 30.000 pound lima tahun yang lalu menjadi 5.000 hingga 10.000 pound, yang lebih dapat terjangkau.’—The Guardian.
▪ ’Mafia kalah jauh dibandingkan dengan geng Balkan yang ganas. Ini adalah kejahatan jenis baru, dengan peraturan serta senjata baru. Ia memiliki peledak dan senapan mesin, dan tidak ragu-ragu menggunakannya.’—The Guardian Weekly.

   Belum lama ini di bulan Oktober 2011, di  South Carolina: Seorang ibu asal South Carolina dijebloskan ke penjara setelah dituduh membunuh dua putranya, mantan suami, dan ibu tirinya. Menurut kepolisian setempat, pelaku mengaku membunuh seluruh anggota keluarganya itu demi uang asuransi jiwa. 
Seperti dikutip Reuters, Rabu (26/10), wanita bernama Susan Hendricks (48) itu ditangkap di sebuah motel pada Senin malam lalu. Selain itu, ia juga menerima tuduhan kepemilikan pistol yang ia gunakan untuk membantai. Sebelum ditangkap, ia sempat mengatakan kepada polisi bahwa salah satu anaknya yang membunuh para korban dan kemudian bunuh diri.Liputan6.com

Semakin Murahkah Nyawa Manusia?
”Inilah dunia tempat nyawa manusia sebegitu murahnya. Kematian dapat dibeli seharga beberapa ratus pound dan selalu saja ada orang-orang yang mau menyediakan jasa itu.”—The Scotsman.

Pada bulan April 1999, dalam sebuah penyerangan yang menggegerkan dunia, dua remaja dengan ganas menyerbu Columbine High School di Littleton, Colorado, AS, dan menewaskan 15 orang. Penyelidikan menunjukkan bahwa satu dari penyerang ini memiliki sebuah situs di Internet yang di dalamnya ia menulis, ”ORANG MATI TIDAK DAPAT MEMBANTAH!” Kedua penyerang tersebut tewas dalam tragedi itu.
PEMBUNUHAN bersifat universal, dan tidak terhitung banyaknya orang yang tewas dengan cara yang sadis setiap hari. Afrika Selatan memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di dunia dengan rata-rata 75 orang per 100.000 penduduk pada tahun 1995. Nyawa sedemikian tidak berharganya di sebuah negara di Amerika Selatan, tempat tewasnya lebih dari 6.000 orang karena alasan politik pada tahun 1997. Pembunuhan berdasarkan kontrak adalah prosedur normal. Sebuah laporan di negara itu menyatakan, ”Yang mengejutkan, pembunuhan anak-anak juga membubung: Pada tahun 1996, 4.322 anak terbunuh, kenaikan 40 persen hanya dalam dua tahun.” Namun, bahkan anak-anak pun menjadi pembunuh—menghabisi nyawa anak-anak lain dan orang-tua mereka sendiri. Kehidupan benar-benar tidak ada harganya.

Mengapa ”Kultur Maut” Muncul?
Apa yang diperlihatkan oleh fakta dan angka ini? Semakin kurangnya respek akan kehidupan. Orang-orang yang haus kekuasaan dan rakus uang tidak segan-segan membunuh. Gembong narkotik memerintahkan untuk membunuh seluruh keluarga. Mereka memperhalus ungkapan pembunuhan mereka dengan ungkapan seperti ”menghabisi”, ”melenyapkan”, atau ”menyingkirkan” korban yang telah mereka incar. Demikian pula genosida dan sapu bersih etnik, yang telah menyebabkan harga nyawa manusia semakin murah. Akibatnya, pembunuhan telah menjadi berita sehari-hari di stasiun TV seluas dunia.

Belum lagi keberingasan serta kekerasan yang diagung-agungkan di televisi dan bioskop, yang membuat masyarakat manusia tampak terkurung dalam suatu kultur menyedihkan yang berorientasi pada kematian. Sehubungan dengan hal ini, Encyclopædia Britannica mengatakan, ”Anehnya, selama pertengahan terakhir abad ke-20, kematian telah menjadi topik yang populer. Sebelumnya, yang mungkin agak mengejutkan, itu adalah tema yang hampir selalu dihindari dalam spekulasi ilmiah yang serius, dan pada taraf yang lebih rendah, dalam spekulasi filosofis.” Menurut Josep Fericgla, seorang profesor antropologi kultural asal Catalonia, ”kematian sudah bukan lagi hal tabu yang paling efektif dalam masyarakat kita, dan oleh karenanya, menjadi salah satu dari sumber manipulasi ideologis terpenting dewasa ini”.

Mungkin, karakteristik yang paling menonjol dari ”kultur maut” ini adalah kepercayaan populer bahwa kekuasaan, keunggulan, uang, dan kesenangan, jauh lebih penting daripada nyawa manusia dan nilai-nilai moral.

Bagaimana ”kultur maut” ini menyebar? Apa yang dapat dilakukan orang-tua untuk menangkal pengaruh negatif di sekeliling mereka ini, yang berdampak pada anak-anak mereka? Inilah beberapa pertanyaan yang akan dijawab di artikel berikut.

Bagaimana ”Kultur Maut” Menyebar Luas?
”Ribuan kilometer terbentang antara para pengungsi muda Kosovo dan anak-anak Amerika yang trauma akibat kekerasan serta pengalaman menyakitkan lainnya, namun jarak emosi di antara mereka sebenarnya tidak terlalu jauh.”—Marc Kaufman, The Washington Post.

Mau tidak mau, langsung atau tidak langsung kita semua dipengaruhi oleh kematian. Demikianlah halnya tidak soal di mana kita tinggal—di negara yang dilanda konflik ganas atau di negara yang relatif stabil.

Dewasa ini, manifestasi ”kultur maut” dapat terlihat melalui tingginya tingkat depresi, penderitaan, kecanduan narkoba, aborsi, perilaku yang merusak diri, bunuh diri, serta pembunuhan massal. Sehubungan dengan cara kematian memanipulasi manusia, Profesor Michael Kearl, dari Departemen Sosiologi dan Antropologi di Trinity University, San Antonio, Texas, AS, menjelaskan, ”Dipandang dari akhir abad kedua puluh ini [1999], kita mendapati bahwa . . . kematian semakin dikenal sebagai daya yang mendasari kehidupan, vitalitas, serta struktur tatanan masyarakat. Kematian adalah sumber inspirasi agama, filsafat, ideologi politik, seni, dan teknologi medis kita. Kematian menggerakkan orang-orang membeli surat kabar dan asuransi, menjadi daya tarik di acara-acara televisi, dan . . . bahkan mendorong sektor industri kita.” Marilah kita memeriksa beberapa contoh bagaimana fenomena ini, yang disebut kultur maut, dimanifestasikan pada zaman kita.

Penjualan Senjata
Dari hari ke hari, ”kultur maut” termanifestasikan melalui penjualan senjata. Persenjataan digunakan untuk membunuh tentara, namun kebanyakan justru rakyat sipil yang terbunuh, termasuk wanita dan anak-anak yang tak bersalah. Dalam peperangan, baik sipil maupun militer, nyawa selalu murah harganya. Berapa harga peluru seorang pembunuh atau penembak runduk?

Begitu mudahnya masyarakat memiliki senjata di beberapa negara telah mengakibatkan pertambahan yang terus-menerus dan mengerikan pada tingkat kematian individu maupun kelompok orang. Setelah tragedi penembakan sekolah menengah di Littleton, Colorado, banyak yang memprotes penjualan senjata yang menyebar luas dan ketersediaannya bagi remaja di bawah umur. Jumlah remaja di Amerika Serikat yang tewas secara mengerikan sungguh memprihatinkan—menurut majalah Newsweek, rata-rata 40 orang dalam seminggu. Hampir 90 persen dari antaranya adalah korban penembakan. Ini sebanding dengan 150 pembantaian seperti peristiwa Littleton tiap tahunnya!

Dunia Hiburan
Film mengeksploitasi tema kematian. Misalnya, alur sebuah film mungkin mengesankan glamornya perbuatan amoral, kekerasan, perdagangan narkoba, atau kejahatan terorganisasi, dengan demikian meremehkan nilai kehidupan dan prinsip-prinsip moral. Bahkan, dalam film-film tertentu, kematian ditampilkan secara romantis—menggambarkan mitos kehidupan setelah kematian, serta kembalinya beberapa orang mati untuk mengunjungi yang hidup—ini semua malah menjadikan kematian hal yang sepele saja.

Halnya sama dengan beberapa acara televisi dan musik. Menurut laporan surat kabar, kedua remaja pembunuh di Littleton itu adalah pengagum berat seorang penyanyi rock yang menjadi terkenal karena ”ketidakjelasan jenis kelamin, lambang-lambang setan”, dan lagu-lagu yang ”bertema pemberontakan dan kematian”.

Di Amerika Serikat, rating acara televisi direvisi untuk melindungi kaum remaja terhadap bahan yang mungkin berpengaruh buruk atas mereka. Hasilnya justru bertolak belakang. Jonathan Alter, dalam tulisannya di Newsweek, berkomentar bahwa rating TV malah ”mungkin membuat anak-anak semakin menginginkan kebejatan itu”. Ia menambahkan bahwa untuk mempermalukan pihak penanggung jawab dan mewajibkan mereka untuk mengurangi kekerasan di media, Presiden Clinton harus ”membeberkan nama-nama semua perusahan besar (beserta dewan eksekutif utamanya [CEO])” yang tidak hanya membuat film bertema pembunuhan dengan pisau dan rekaman bertema ’rap gangsta’, tetapi juga memproduksi program game komputer yang membuat anak-anak dapat ”membunuh orang ’secara virtual’”.

Kematian lewat Video-Game dan Internet
Dalam bukunya berjudul The Deathmatch Manifesto, Robert Waring menganalisis popularitas game pertarungan hidup-mati di kalangan remaja. Tn. Waring yakin bahwa para pemain game seputar fenomena ini telah bermunculan. Dampak permainan ini tidak mendidik, tetapi malah mengajarkan untuk membunuh. ”Bermain dengan musuh yang hidup dari tempat lain di dunia, dan mencoba membuktikan diri jagoan, adalah pengalaman yang sangat berpengaruh. Sangat mudah untuk terjerat ke dalamnya,” komentar Waring. Para remaja terjebak dalam kekuatan skenario tiga dimensi yang dirancang sebagai latar belakang pertarungan berdarah itu. Kalaupun tidak memiliki akses ke Internet, ada yang membeli paket video-game untuk dimainkan di televisi rumah. Yang lain secara teratur mengunjungi tempat-tempat umum untuk menyewa mesin-mesin video-game dan bertarung mati-matian secara ’virtual’ dengan musuh lainnya.

Meskipun game ”pertarungan hidup-mati” digolongkan menurut usia pemainnya, kenyataannya hal itu sulit dikontrol. Eddie yang berusia 14 tahun dari Amerika Serikat mengomentari, ”Orang-orang biasanya memberi tahu bahwa Anda belum cukup umur, tetapi mereka tidak mencegah Anda membeli [game itu].” Ia menikmati sebuah game yang berisi adegan baku tembak gila-gilaan. Meskipun orang-tuanya sadar akan hal ini dan tidak menyukainya, mereka jarang memeriksa apakah ia memainkan game itu atau tidak. Seorang remaja menarik kesimpulan ini, ”Generasi kita menjadi sangat tidak peka terhadap kekerasan dibandingkan dengan generasi lainnya. Peranan TV dalam membesarkan anak lebih besar daripada peranan orang-tua, dan televisi mengobarkan fantasi anak-anak tentang kekerasan.” Dalam tulisannya di Newsweek, John Leland menyatakan, ”Dengan 11 juta remaja yang kini memiliki akses ke Internet [di Amerika Serikat], semakin banyak kehidupan remaja dihabiskan dalam kegiatan yang tak tertembus oleh banyak orang-tua.”

Gaya Hidup Memautkan
Bagaimana dengan perilaku di luar dunia game ”pertarungan hidup-mati” serta film-film kekerasan? Meskipun dalam kehidupan nyata kita tidak harus bersaing dalam pertarungan hidup-mati dengan makhluk-makhluk berperawakan aneh, gaya hidup banyak orang pun mencakup perilaku yang merusak diri. Misalnya, meskipun ada pengaruh keluarga, sistem kesehatan, dan kalangan berwenang lainnya yang memperingatkan bahaya akibat merokok dan menyalahgunakan narkoba, praktek-praktek ini terus meningkat. Dalam banyak kasus, mereka akhirnya mengalami kematian dini. Guna meningkatkan keuntungan gelap, bisnis besar dan pedagang narkoba terus memanfaatkan kekhawatiran, keputusasaan, dan kemiskinan rohani orang-orang.
Sumber g2000 8./7 Awake! [Sebagian gambar dari Deviant Art]


RELATED LINK:  
MENJAWAB~SIAPA DALANGNYA? serta MEMBANTU KAUM REMAJA TERBEBAS ”Kultur Maut”
MENGAPA ORANG-ORANG BEGITU PEMARAH? [publikasi Maret 2012]


PERUBAHAN WATAK DIBUTUHKAN, BAGAIMANA?: TRANSFORMING HUMAN NATURE




07 Oktober, 2011

Standar Etika dan Penegak Hukum

Apa yang Dimaksud dengan Etika?
ETIKA” telah didefinisikan sebagai ”ilmu yang mempelajari apa yang secara moral benar dan salah”. (Collins Cobuild English Dictionary) Penulis Eric J. Easton berkata, ”’Etika’ dan ’moralitas’ memiliki makna dasar yang sama. Yang pertama berasal dari bahasa Yunani (ethikos) dan yang kedua dari bahasa Latin (moralis), dan kedua-duanya memaksudkan aturan kebiasaan dan tradisi.”
Sejak lama, agama biasanya menentukan standar etik yang dianut orang, namun hal itu telah tergantikan? Karena, semakin banyak orang di seluruh dunia menganggap berbagai standar agama tidak praktis. Apa yang menggantikannya? Buku Ethics in Business Life mengatakan bahwa ”penalaran sekuler telah . . . mengalahkan wewenang yang tadinya dimiliki agama”. Ketimbang berpaling kepada standar etik agama, banyak orang mencari bimbingan dari pakar ilmu etika sekuler. Seorang pakar bioetik Paul McNeill berkata, ”Menurut saya, peranan [Guru agama] sudah diambil alih oleh para pakar etik. . . . Orang-orang sekarang dibimbing oleh etika dan tidak lagi oleh agama.”
Sewaktu Anda menghadapi keputusan yang sulit, bagaimana Saudara menentukan mana yang benar dan mana yang salah? 
[Ternyata di negeri yang banyak kasus korupsinya  pakar-pakar etika sekuler di sana kebingungan menentukan arah dan langkah, acuan standar etika mana yang mereka ikuti? Apakah kepentingan tertentu atau prilaku yang tamak mengaburkan kewajiban moral mereka?
Pertimbangkan situasi berikut? Seorang penegak hukum yang dikenal opurtunis makan besama dan bercakap-cakap diluar jam kerja dengan politikus atau seorang pegusaha yang rentan dengan skandal suap? Penyangkalan atas situasi itu bisa mengaburkan standar etika dan malah menjerumuskan orang lain untuk mendistorsi setiap langkah penegakan hukum, situasinya sama dengan situasi lain yang lebih gamblang, misalnya katakanlah Anda punya bisnis penjualan warisan. Anda sedang membantu seseorang memilih dan menjual barang-barang rumah tangga milik almarhumah orang tuanya. Sewaktu memeriksa sebuah tungku tua, Anda menemukan dua kotak alat pancing. Ketika memeriksa salah satu kotak, Anda pun terperanjat. Ada banyak gulungan uang 100 dolar yang dibungkus kertas aluminium—senilai 800 juta rupiah! Anda hanya sendirian di ruangan itu. Apa yang harus Anda lakukan? Diam-diam mengambil kotak itu atau memberi tahu klien bahwa Anda menemukan uang tersebut?
Jika Anda memutuskan diam-diam mengambil kotak itu tanpa memberitahukan dengan berpikir kalau terjaring KPK pasti penasihat hukum yang akan menentukan etika moral mana yang saya ikuti, dengan kayakinan toh ada para petua (tim komite etik) berada dibelakang para eksekutor ketika memutuskan yang benar dan yang salah yang notabene mereka pun kebingungan menentukan standar etika moral.] Parafrasa narasumber Watchtower  1/12/2004

27 September, 2011

Mengukur Kemiskinan yang Parah serta Upaya Mengakhirinya


 KEMISKINAN dengan istilah "orang pinggiran" akhir-akhir ini sering disebut-sebut oleh sebagian komunitas sosial atau pemerhati yang prihatin di negeri ini.
 Kemiskinan yang parah selalu dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang mengancam kehidupan yang mencakup orang yang tidak mempunyai: cukup makanan, air, bahan bakar dan tidak mendapat tempat tinggal, perawatan kesehatan, pendidikan yang memadai. Di dunia kemiskinan demikian menimpa 1.000.000.000 orang. Namun, sangat disesalkan kebanyakan orang-orang di negeri makmur, seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara, tidak pernah tahu seperti apa kemiskinan yang parah itu. 



09 September, 2011

KEJUJURAN MENENTANG ARUS

MENARIK Menyaksikan wawancara di media TV (8/9/2011) dengan Diky Chandra yang mengundang banyak polemik ditengah krisis global soal kepercayaan dan maraknya issue kasus korupsi.


"Sebelum jadi wakil bupati saya punya rumah, kendaraan ada dua, sekarang rumah saya bahkan sudah tidak layak huni", katanya. 'Bukankah kalau jadi pejabat seperti Anda, rumah Anda harusnya sudah lebih baik? atau apakah rumah lain tidak disebutkan?' Itulah tendensi pertanyaan dari masyarakat yang sedang tidak percaya dengan para pejabat pemerintah daerah maupun pusat.


Jadi sudah hal yang lumrah bila seorang yang memiliki watak yang jujur dan lurus akan terhempas keluar ditengah arus dan gelombang yang sarat dengan kepalsuan, suap penyuap dan birokrasi korup yang sudah berjamaah dikalangan pejabat daerah seperti halnya yang terjadi di tempat dimana Diky bekerja.  [lihat berita terkait disini, lihat lagi berita terkait, ada masalah apa?]


Ingat lagu Oemar Bakrinya Iwan Fals, yang liriknya,
 “…..Oemar bakri, Oemar bakri, pegawai negeri
Oemar bakri, Oemar bakri, 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar bakri, Oemar bakri, banyak ciptakan menteri
Oemar bakri …,profesor dokter insinyur punjadi
tapi mengapa gaji guru umar bakr
i seperti dikebiri….”


Lirik lagu ini sudah sejak lama diartikan untuk orang-orang yang mempertahankan prinsip kejujuran, tidak selalu di pegawai negeri tetapi dapat berlaku bagi semua orang yang lurus yang bekerja dimana saja. Kebetulan bapak Rimbun Aritonang di kenal sebagai seorang mantan pegawai negeri yang tiga puluhan tahunan lalu pernah bekerja di Bappenas yang berani melawan arus, kemudian di mutasi ke kementrian lingkungan hidup pada waktu Emil Salim menjabat, para kogelanya waktu itu seperti Ibu Erna Witoelar yang pernah menjadi menteri di era Abdurahman Wahid (presiden Gusdur). Rimbun alias Oemar Bakre kini telah wafat (1981) karena kanker liver barangkali kelelahan bersanding dengan bosnya ke daerah-daerah kemana ia bertugas sebagai asisten menteri.  Dalam ingatan keluarganya bahwa orang-orang seperti Harmoko yang masih wartawan atau pengusaha sering bertemu di kantornya namun tidak ada bekas kalau pak Rimbun pernah masuk ke arena birokrat orde-baru waktu itu. 



Kini rumahnya di kompleks Bappenas yang berlokasi di sisi jalan  S. Parman,  Jakarta Barat itu masih standar perum yang sudah tua di lingkungan Apartemen The Oase dan rumah modern nan mewah.  Kesederhanaan seperti itu tidak menyisakan kesan buruk atau aroma busuk dari reputasi buruk tetapi bau harum karena mempertahankan kejujuran. Itu fakta bahwa arus deras apapun tampaknya tidak mempengaruhi arah langkah orang-orang yang berani untuk bersikap jujur. Testemonial sedemikian sudah semestinya sering di muculkan di media. 


Ya, kita perlu ada tokoh-tokoh atau siapa pun orang yang memberikan contoh ditengah ketidakpopuleran haluan kejujuran. Sudah saatnya mass media apalagi televisi menyoroti segelintir realitas ini. Bayangkan saja setiap hari masyarakat kita melihat wajah-wajah yang penuh percaya diri ketika mereka di sidang dihadapan parlemen atau masyarakat berargumen bahwa mereka telah bekerja dengan baik dan benar tetapi menuntup mata terhadap praktek-praktek kotor atau bahkan diam-diam berpraktekria di tengah-tengah sindikasi.


Mengingat betapa sulitnya mempraktekkan kejujuran. Kejujuran saja tidaklah cukup bahkan bagi orang yang mengaku agamais sekalipun, itu disebut: KEJUJURAN YANG TIDAK TANGGUNG-TANGGUNG karena mencakup segala aspek, maka terus bukalah link-link kelanjutan artikel ada pencerahan sejati disana.

Kebahagiaan Melawan Arus Ketidakjujuran

06 September, 2011

Mengelola ANGGARAN Dimulai di Rumah

SEJATINYA  mengatur keuangan agar terhindar dari resesi ekonomi adalah dimulai dari rumah tangga kita. Pemosting portal sederhana ini tergerak untuk mengangkat persoalan yang pagi ini di bahas di mass media televisi sehubungan dengan krisis kepercayaan di negara ini terkait dengan mengelola Anggaran. Metro TV membuka pagi ini dengan dialog interaktif dengan masyarakat tentang "bubarkan banggar DPR".


Tanpa dimuati oleh kepentingan politis kita boleh mengibaratkan orang-orang yang terlibat dalam menyusun dan mengimplementasikan anggaran sama dengan orang-orang seisi rumah tangga kita. Apakah Anda mau membayangkan kalau ada peyimpangan dalam kaitannya dengan anggaran rumah tangga kemudian kita mau membubabarkan unit terkecil dalam masyarakat itu? Sang kepala keluarga dan istri serta anak-anak terceraiberaikan gara-gara salah kelola dan kebangkrutan keuangan keluarga? Tentu tidak mungkin bukan?


Anda boleh mencari-cari prinsip terbaik dalam menghindari penyimpangan mengatur "uang anggaran", tidak ada lain selain kutipan prinsip itu berikut ini: Pada dasarnya ada tiga cara mengatur uang, (tidak soal mengatur dalam rumah tangga Anda atau dalam unit yang besar seperti lembaga legislatif pemerintahan), Pertama adalah, DIBELANJAKAN, (2) DISIMPAN, (3) DIBERIKAN.
Pertama-tama mari kita ulas bagaimana bersikap bijak sewaktu membelanjakan uang.  Belajar dari hikmah yang dipetik dari resesi besar, bahwa penting untuk mengatur anggaran dengan baik. Sebenarnya, apa arti penting anggaran?


Singkatnya, anggaran adalah perhitungan tentang caranya pendapatan akan digunakan, entah oleh perorangan, keluarga, bisnis dan pemerintah. 


Ironisnya arti penting itu telah berubah definisinya oleh praktek-praktek penggelapan dan korupsi seperti yang terjadi di pemerintahan republik Indonesia. Mengapa Anggaran subsidi pemerintah menurun? seperti yang diuraikan dalam rapat paripurna di ruang parlemen. Kalau kita rendah hati mau menganologikan saja dengan caranya urusan-urusan besar seperti itu dengan yang perlu di lakukan di rumah tangga Anda pasti solusi masalah kepercayaan dan resesi ekonomi lembaga terbesar apapun bisa diperoleh.


Misalnya soal defisit anggaran terjadi mengakibatkan subsidi menurun sama dengan suplai uang dari pendapatan sampingan seorang ayah atau kepala keluarga terpaksa harus di batasi akibat pengeluaran terlalu boros? apakah itu akan membantu menutup lubang defisit? Kenyataannya subsidi tidak menyelesaikan problem defisit yang terus ada walaupun tampaknya subsidi diperlukan. Jadi pembatasan subsidi bisa dibenarkan untuk menghentikan pemborosan karena adanya ironisme berkesinambungan~Anda seperti akan terus-terusan boros, membayar hutang dan tagihan terus menerus seumur hidup sampai Anda mati karena seperti halnya membayar hutang kartu kredit tanpa pernah melebihi batas limit.


Sekarang kalau begitu bagaimana? Terapkanlah prinsip atau aturan bahwa seluruh anggota keluarga harus hidup berhemat. Ketika melihat aturan ini Anda boleh membayangkan sendiri bagaimana itu bisa diterapkan dalam sebuah pemerintahan, lembaga keuangan atau bahkan termasuk Banggar di Parlemen sekalipun.


Selengkapnya di portal nonsekuler disini.

Menarik! Menyitir artikel dari narasumber ini, memperlihatkan hasil yang sangat positf apabila ke tiga cara mengatur uang diterapkan. Bahkan ada kebahagiaan terbesar kalau itu terjadi dalam suatu keluarga maka rumah tangga itu akan langgeng dan tidak terpecah belah. Nah! Bagaimana kalau itu terjadi dalam suatu negara, tentu masyarakatnya akan makmur dan hubungan penguasa~pejabat pemerintahan dan masyarakat akan terjalin baik, tetapi itu mustahil apabila ada banyak kepentingan mengacaukan niat baik sekali pun. Namun demikian ada kebahagiaan terbesar dalam menjalankan tiga aspek itu. 


Begini sipnosis parafrasenya: Penelitian menunjukan memberikan sumber daya untuk orang lain, yang mencakup waktu, energi, dan sebagian uang,  Tidak soal seberapa besar sumber daya Anda, ini bisa jadi yang terbaik dari ketiga opsi itu.


Chris Farrell, dalam bukunya The New Frugalilty, mengatakan bahwa menabung [sebaliknya daripada pemborosan dan penyalahgunaan uang atau korupsi] adalah "sarana untuk memberi".  Ia menyarankan, "Salah satu hal yang paling berharga dan masuk akal untuk memanfaatkan uang Anda adalah memberikannya kepada orang lain." [Dalam lingkup yang sederhana uang bisa diberikan dalam bentuk hadiah atau kemurahan hati dengan menjamu teman dan keluarga]


Michael Wagner seorang ekonom, tampaknya sependapat. Dalam bukunya Your Money, Day one, untuk tujuan memotifasi kaum muda untuk berhemat, menyatakan, "Sewaktu kita berinisiatif membantu orang-orang yang kurang beruntung, kebaikan dan kemurahan hati tersebut akan kembali kepada kita dalam berbagai cara yang positif, tetapi yang paling memuaskan adalah perasaan batin yang bakal kita alami karena membantu sesama." [yakni kebahagiaan].


Nah bagaimana kalau itu terjadi dalam suatu tatanan masyarakat yang diatur dalam sistem kekuasaan yang arif yang mau menjalankan prinsip dan aturan diatas? Ada tujuh perkataan bijak yang bisa Anda cari di link ini.






Captions (gambar): di-croping dari majalah Sedarlah! edisi September 2011

30 Agustus, 2011

Alih-alih memanfaatkan kekuasaan, jabatan untuk menimbun lumbung materialisme hindarilah segala bentuk penyimpangan, korupsi dan penipuan bahkan jika Anda ingin mendapat penghasilan di masa-masa sulit ini berhematlah dalam mengatur keuangan sisihkan investasi minimal untuk usaha yang aman.


Postingan terakhir ini memberikan solusi yang bebas dari lingkaran masalah: Bagaimana MENGATUR UANG


 Memperkenalkan  SOLUSI GLOBAL CARI UANG


10 Agustus, 2011

Aksi Kekerasan Terus Berlanjut

MENURUT beberapa orang, hanya melalui tindak kekerasanlah mereka akan memperoleh kemerdekaan politis dan kemurnian spiritual—bahwa hanya kekuatan yang membinasakan yang akan menyingkirkan para penguasa yang tidak diinginkan. Selain itu, beberapa pemerintah memanfaatkan teror untuk menjaga ketertiban serta mempertahankan kendali atas rakyatnya. Tetapi, seandainya terorisme memang merupakan alat yang jitu untuk memerintah dan menghasilkan reformasi sosial, aksi itu semestinya menghasilkan kedamaian, kemakmuran, dan kestabilan. Setelah beberapa waktu, kekerasan dan rasa takut semestinya mereda. Sudahkah kita melihat hasil-hasil tersebut?
Kenyataannya, terorisme justru merusak respek terhadap kehidupan dan mengakibatkan pertumpahan darah serta kekejaman. Karena pedih hati, para korban sering kali membalas dendam, yang ditangkis dengan aksi penumpasan, lalu disusul aksi balas dendam lagi.