07 Oktober, 2011

Standar Etika dan Penegak Hukum

Apa yang Dimaksud dengan Etika?
ETIKA” telah didefinisikan sebagai ”ilmu yang mempelajari apa yang secara moral benar dan salah”. (Collins Cobuild English Dictionary) Penulis Eric J. Easton berkata, ”’Etika’ dan ’moralitas’ memiliki makna dasar yang sama. Yang pertama berasal dari bahasa Yunani (ethikos) dan yang kedua dari bahasa Latin (moralis), dan kedua-duanya memaksudkan aturan kebiasaan dan tradisi.”
Sejak lama, agama biasanya menentukan standar etik yang dianut orang, namun hal itu telah tergantikan? Karena, semakin banyak orang di seluruh dunia menganggap berbagai standar agama tidak praktis. Apa yang menggantikannya? Buku Ethics in Business Life mengatakan bahwa ”penalaran sekuler telah . . . mengalahkan wewenang yang tadinya dimiliki agama”. Ketimbang berpaling kepada standar etik agama, banyak orang mencari bimbingan dari pakar ilmu etika sekuler. Seorang pakar bioetik Paul McNeill berkata, ”Menurut saya, peranan [Guru agama] sudah diambil alih oleh para pakar etik. . . . Orang-orang sekarang dibimbing oleh etika dan tidak lagi oleh agama.”
Sewaktu Anda menghadapi keputusan yang sulit, bagaimana Saudara menentukan mana yang benar dan mana yang salah? 
[Ternyata di negeri yang banyak kasus korupsinya  pakar-pakar etika sekuler di sana kebingungan menentukan arah dan langkah, acuan standar etika mana yang mereka ikuti? Apakah kepentingan tertentu atau prilaku yang tamak mengaburkan kewajiban moral mereka?
Pertimbangkan situasi berikut? Seorang penegak hukum yang dikenal opurtunis makan besama dan bercakap-cakap diluar jam kerja dengan politikus atau seorang pegusaha yang rentan dengan skandal suap? Penyangkalan atas situasi itu bisa mengaburkan standar etika dan malah menjerumuskan orang lain untuk mendistorsi setiap langkah penegakan hukum, situasinya sama dengan situasi lain yang lebih gamblang, misalnya katakanlah Anda punya bisnis penjualan warisan. Anda sedang membantu seseorang memilih dan menjual barang-barang rumah tangga milik almarhumah orang tuanya. Sewaktu memeriksa sebuah tungku tua, Anda menemukan dua kotak alat pancing. Ketika memeriksa salah satu kotak, Anda pun terperanjat. Ada banyak gulungan uang 100 dolar yang dibungkus kertas aluminium—senilai 800 juta rupiah! Anda hanya sendirian di ruangan itu. Apa yang harus Anda lakukan? Diam-diam mengambil kotak itu atau memberi tahu klien bahwa Anda menemukan uang tersebut?
Jika Anda memutuskan diam-diam mengambil kotak itu tanpa memberitahukan dengan berpikir kalau terjaring KPK pasti penasihat hukum yang akan menentukan etika moral mana yang saya ikuti, dengan kayakinan toh ada para petua (tim komite etik) berada dibelakang para eksekutor ketika memutuskan yang benar dan yang salah yang notabene mereka pun kebingungan menentukan standar etika moral.] Parafrasa narasumber Watchtower  1/12/2004