PERNAHKAN Anda mendengar istilah "kultur maut?" culture of death, destroy popular culture, istilah-istilah yang lahir dari dunia yang nekat tanpa kendali moral, tren ini sudah ada sejak lama dan pernah di ulas dalam sebuah artikel Awake! pada tahun 2000, erat kaitannya dengan menipisnya respek orang-orang terhadap kehidupan sendiri serta kehidupan dan nyawa orang lain. Misalnya, pertimbangkan kenyataan yang di amati pada dekade lalu,
Berapa Harga Nyawa?
▪ ”Kaum remaja anggota geng [di Mumbai, India] benar-benar nekat, mereka bersedia membunuh dengan tarif 5.000 rupee saja [115 dolar AS].”—Far Eastern Economic Review.
▪ ”Menolak Memberi Rokok, Orang Lewat Dibunuh”.—Tajuk berita di La Tercera, Santiago, Cile.
▪ ”Rata-rata, butuh 7.000 dolar AS untuk mengatur pembunuhan kontrak di Rusia [pada tahun 1995] . . . Pembunuhan kontrak telah meningkat tajam dalam iklim ledakan ekonomi di Rusia pasca-komunis.”—Reuters, berdasarkan sebuah laporan dari Moscow News.
▪ ”Seorang pialang real estat di Brooklyn ditangkap . . . dan dituntut atas tuduhan membayar uang muka dari sejumlah 1.500 dolar AS kepada seorang remaja untuk membunuh istrinya yang sedang hamil beserta ibu mertuanya.”—The New York Times.
▪ ’Harga untuk membunuh di Inggris sedang menurun. Tarif seorang pembunuh bayaran telah merosot dari 30.000 pound lima tahun yang lalu menjadi 5.000 hingga 10.000 pound, yang lebih dapat terjangkau.’—The Guardian.
▪ ’Mafia kalah jauh dibandingkan dengan geng Balkan yang ganas. Ini adalah kejahatan jenis baru, dengan peraturan serta senjata baru. Ia memiliki peledak dan senapan mesin, dan tidak ragu-ragu menggunakannya.’—The Guardian Weekly.
Belum lama ini di bulan Oktober 2011, di South Carolina: Seorang ibu asal South Carolina dijebloskan ke penjara setelah dituduh membunuh dua putranya, mantan suami, dan ibu tirinya. Menurut kepolisian setempat, pelaku mengaku membunuh seluruh anggota keluarganya itu demi uang asuransi jiwa.
Seperti dikutip Reuters, Rabu (26/10), wanita bernama Susan Hendricks (48) itu ditangkap di sebuah motel pada Senin malam lalu. Selain itu, ia juga menerima tuduhan kepemilikan pistol yang ia gunakan untuk membantai. Sebelum ditangkap, ia sempat mengatakan kepada polisi bahwa salah satu anaknya yang membunuh para korban dan kemudian bunuh diri.—Liputan6.comSemakin Murahkah Nyawa Manusia?
”Inilah dunia tempat nyawa manusia sebegitu murahnya. Kematian dapat dibeli seharga beberapa ratus pound dan selalu saja ada orang-orang yang mau menyediakan jasa itu.”—The Scotsman.
Pada bulan April 1999, dalam sebuah penyerangan yang menggegerkan dunia, dua remaja dengan ganas menyerbu Columbine High School di Littleton, Colorado, AS, dan menewaskan 15 orang. Penyelidikan menunjukkan bahwa satu dari penyerang ini memiliki sebuah situs di Internet yang di dalamnya ia menulis, ”ORANG MATI TIDAK DAPAT MEMBANTAH!” Kedua penyerang tersebut tewas dalam tragedi itu.
PEMBUNUHAN bersifat universal, dan tidak terhitung banyaknya orang yang tewas dengan cara yang sadis setiap hari. Afrika Selatan memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di dunia dengan rata-rata 75 orang per 100.000 penduduk pada tahun 1995. Nyawa sedemikian tidak berharganya di sebuah negara di Amerika Selatan, tempat tewasnya lebih dari 6.000 orang karena alasan politik pada tahun 1997. Pembunuhan berdasarkan kontrak adalah prosedur normal. Sebuah laporan di negara itu menyatakan, ”Yang mengejutkan, pembunuhan anak-anak juga membubung: Pada tahun 1996, 4.322 anak terbunuh, kenaikan 40 persen hanya dalam dua tahun.” Namun, bahkan anak-anak pun menjadi pembunuh—menghabisi nyawa anak-anak lain dan orang-tua mereka sendiri. Kehidupan benar-benar tidak ada harganya.
Mengapa ”Kultur Maut” Muncul?
Apa yang diperlihatkan oleh fakta dan angka ini? Semakin kurangnya respek akan kehidupan. Orang-orang yang haus kekuasaan dan rakus uang tidak segan-segan membunuh. Gembong narkotik memerintahkan untuk membunuh seluruh keluarga. Mereka memperhalus ungkapan pembunuhan mereka dengan ungkapan seperti ”menghabisi”, ”melenyapkan”, atau ”menyingkirkan” korban yang telah mereka incar. Demikian pula genosida dan sapu bersih etnik, yang telah menyebabkan harga nyawa manusia semakin murah. Akibatnya, pembunuhan telah menjadi berita sehari-hari di stasiun TV seluas dunia.
Belum lagi keberingasan serta kekerasan yang diagung-agungkan di televisi dan bioskop, yang membuat masyarakat manusia tampak terkurung dalam suatu kultur menyedihkan yang berorientasi pada kematian. Sehubungan dengan hal ini, Encyclopædia Britannica mengatakan, ”Anehnya, selama pertengahan terakhir abad ke-20, kematian telah menjadi topik yang populer. Sebelumnya, yang mungkin agak mengejutkan, itu adalah tema yang hampir selalu dihindari dalam spekulasi ilmiah yang serius, dan pada taraf yang lebih rendah, dalam spekulasi filosofis.” Menurut Josep Fericgla, seorang profesor antropologi kultural asal Catalonia, ”kematian sudah bukan lagi hal tabu yang paling efektif dalam masyarakat kita, dan oleh karenanya, menjadi salah satu dari sumber manipulasi ideologis terpenting dewasa ini”.
Mungkin, karakteristik yang paling menonjol dari ”kultur maut” ini adalah kepercayaan populer bahwa kekuasaan, keunggulan, uang, dan kesenangan, jauh lebih penting daripada nyawa manusia dan nilai-nilai moral.
Bagaimana ”kultur maut” ini menyebar? Apa yang dapat dilakukan orang-tua untuk menangkal pengaruh negatif di sekeliling mereka ini, yang berdampak pada anak-anak mereka? Inilah beberapa pertanyaan yang akan dijawab di artikel berikut.
Bagaimana ”Kultur Maut” Menyebar Luas?
”Ribuan kilometer terbentang antara para pengungsi muda Kosovo dan anak-anak Amerika yang trauma akibat kekerasan serta pengalaman menyakitkan lainnya, namun jarak emosi di antara mereka sebenarnya tidak terlalu jauh.”—Marc Kaufman, The Washington Post.
Mau tidak mau, langsung atau tidak langsung kita semua dipengaruhi oleh kematian. Demikianlah halnya tidak soal di mana kita tinggal—di negara yang dilanda konflik ganas atau di negara yang relatif stabil.
Dewasa ini, manifestasi ”kultur maut” dapat terlihat melalui tingginya tingkat depresi, penderitaan, kecanduan narkoba, aborsi, perilaku yang merusak diri, bunuh diri, serta pembunuhan massal. Sehubungan dengan cara kematian memanipulasi manusia, Profesor Michael Kearl, dari Departemen Sosiologi dan Antropologi di Trinity University, San Antonio, Texas, AS, menjelaskan, ”Dipandang dari akhir abad kedua puluh ini [1999], kita mendapati bahwa . . . kematian semakin dikenal sebagai daya yang mendasari kehidupan, vitalitas, serta struktur tatanan masyarakat. Kematian adalah sumber inspirasi agama, filsafat, ideologi politik, seni, dan teknologi medis kita. Kematian menggerakkan orang-orang membeli surat kabar dan asuransi, menjadi daya tarik di acara-acara televisi, dan . . . bahkan mendorong sektor industri kita.” Marilah kita memeriksa beberapa contoh bagaimana fenomena ini, yang disebut kultur maut, dimanifestasikan pada zaman kita.
Penjualan Senjata
Dari hari ke hari, ”kultur maut” termanifestasikan melalui penjualan senjata. Persenjataan digunakan untuk membunuh tentara, namun kebanyakan justru rakyat sipil yang terbunuh, termasuk wanita dan anak-anak yang tak bersalah. Dalam peperangan, baik sipil maupun militer, nyawa selalu murah harganya. Berapa harga peluru seorang pembunuh atau penembak runduk?
Begitu mudahnya masyarakat memiliki senjata di beberapa negara telah mengakibatkan pertambahan yang terus-menerus dan mengerikan pada tingkat kematian individu maupun kelompok orang. Setelah tragedi penembakan sekolah menengah di Littleton, Colorado, banyak yang memprotes penjualan senjata yang menyebar luas dan ketersediaannya bagi remaja di bawah umur. Jumlah remaja di Amerika Serikat yang tewas secara mengerikan sungguh memprihatinkan—menurut majalah Newsweek, rata-rata 40 orang dalam seminggu. Hampir 90 persen dari antaranya adalah korban penembakan. Ini sebanding dengan 150 pembantaian seperti peristiwa Littleton tiap tahunnya!
Dunia Hiburan
Film mengeksploitasi tema kematian. Misalnya, alur sebuah film mungkin mengesankan glamornya perbuatan amoral, kekerasan, perdagangan narkoba, atau kejahatan terorganisasi, dengan demikian meremehkan nilai kehidupan dan prinsip-prinsip moral. Bahkan, dalam film-film tertentu, kematian ditampilkan secara romantis—menggambarkan mitos kehidupan setelah kematian, serta kembalinya beberapa orang mati untuk mengunjungi yang hidup—ini semua malah menjadikan kematian hal yang sepele saja.
Halnya sama dengan beberapa acara televisi dan musik. Menurut laporan surat kabar, kedua remaja pembunuh di Littleton itu adalah pengagum berat seorang penyanyi rock yang menjadi terkenal karena ”ketidakjelasan jenis kelamin, lambang-lambang setan”, dan lagu-lagu yang ”bertema pemberontakan dan kematian”.
Di Amerika Serikat, rating acara televisi direvisi untuk melindungi kaum remaja terhadap bahan yang mungkin berpengaruh buruk atas mereka. Hasilnya justru bertolak belakang. Jonathan Alter, dalam tulisannya di Newsweek, berkomentar bahwa rating TV malah ”mungkin membuat anak-anak semakin menginginkan kebejatan itu”. Ia menambahkan bahwa untuk mempermalukan pihak penanggung jawab dan mewajibkan mereka untuk mengurangi kekerasan di media, Presiden Clinton harus ”membeberkan nama-nama semua perusahan besar (beserta dewan eksekutif utamanya [CEO])” yang tidak hanya membuat film bertema pembunuhan dengan pisau dan rekaman bertema ’rap gangsta’, tetapi juga memproduksi program game komputer yang membuat anak-anak dapat ”membunuh orang ’secara virtual’”.
Kematian lewat Video-Game dan Internet
Dalam bukunya berjudul The Deathmatch Manifesto, Robert Waring menganalisis popularitas game pertarungan hidup-mati di kalangan remaja. Tn. Waring yakin bahwa para pemain game seputar fenomena ini telah bermunculan. Dampak permainan ini tidak mendidik, tetapi malah mengajarkan untuk membunuh. ”Bermain dengan musuh yang hidup dari tempat lain di dunia, dan mencoba membuktikan diri jagoan, adalah pengalaman yang sangat berpengaruh. Sangat mudah untuk terjerat ke dalamnya,” komentar Waring. Para remaja terjebak dalam kekuatan skenario tiga dimensi yang dirancang sebagai latar belakang pertarungan berdarah itu. Kalaupun tidak memiliki akses ke Internet, ada yang membeli paket video-game untuk dimainkan di televisi rumah. Yang lain secara teratur mengunjungi tempat-tempat umum untuk menyewa mesin-mesin video-game dan bertarung mati-matian secara ’virtual’ dengan musuh lainnya.
Meskipun game ”pertarungan hidup-mati” digolongkan menurut usia pemainnya, kenyataannya hal itu sulit dikontrol. Eddie yang berusia 14 tahun dari Amerika Serikat mengomentari, ”Orang-orang biasanya memberi tahu bahwa Anda belum cukup umur, tetapi mereka tidak mencegah Anda membeli [game itu].” Ia menikmati sebuah game yang berisi adegan baku tembak gila-gilaan. Meskipun orang-tuanya sadar akan hal ini dan tidak menyukainya, mereka jarang memeriksa apakah ia memainkan game itu atau tidak. Seorang remaja menarik kesimpulan ini, ”Generasi kita menjadi sangat tidak peka terhadap kekerasan dibandingkan dengan generasi lainnya. Peranan TV dalam membesarkan anak lebih besar daripada peranan orang-tua, dan televisi mengobarkan fantasi anak-anak tentang kekerasan.” Dalam tulisannya di Newsweek, John Leland menyatakan, ”Dengan 11 juta remaja yang kini memiliki akses ke Internet [di Amerika Serikat], semakin banyak kehidupan remaja dihabiskan dalam kegiatan yang tak tertembus oleh banyak orang-tua.”
Gaya Hidup Memautkan
Bagaimana dengan perilaku di luar dunia game ”pertarungan hidup-mati” serta film-film kekerasan? Meskipun dalam kehidupan nyata kita tidak harus bersaing dalam pertarungan hidup-mati dengan makhluk-makhluk berperawakan aneh, gaya hidup banyak orang pun mencakup perilaku yang merusak diri. Misalnya, meskipun ada pengaruh keluarga, sistem kesehatan, dan kalangan berwenang lainnya yang memperingatkan bahaya akibat merokok dan menyalahgunakan narkoba, praktek-praktek ini terus meningkat. Dalam banyak kasus, mereka akhirnya mengalami kematian dini. Guna meningkatkan keuntungan gelap, bisnis besar dan pedagang narkoba terus memanfaatkan kekhawatiran, keputusasaan, dan kemiskinan rohani orang-orang.
Sumber g2000 8./7 Awake! [Sebagian gambar dari Deviant Art]
Sumber g2000 8./7 Awake! [Sebagian gambar dari Deviant Art]
RELATED LINK:
MENJAWAB~SIAPA DALANGNYA? serta MEMBANTU KAUM REMAJA TERBEBAS ”Kultur Maut”
MENGAPA ORANG-ORANG BEGITU PEMARAH? [publikasi Maret 2012]
PERUBAHAN WATAK DIBUTUHKAN, BAGAIMANA?: TRANSFORMING HUMAN NATURE
MENJAWAB~SIAPA DALANGNYA? serta MEMBANTU KAUM REMAJA TERBEBAS ”Kultur Maut”
MENGAPA ORANG-ORANG BEGITU PEMARAH? [publikasi Maret 2012]
PERUBAHAN WATAK DIBUTUHKAN, BAGAIMANA?: TRANSFORMING HUMAN NATURE


